Dosen Program Studi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, Bapak Ahmad Ridwan, S.S., M.Hum., hadir sebagai pemateri dalam kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Al Khosiny Sidoarjo pada 25–27 Juli 2025.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses kaderisasi formal PMII yang bertujuan membentuk kader intelektual yang berintegritas, kritis, dan berwawasan kebangsaan. Dalam forum tersebut, Ahmad Ridwan diundang untuk menyampaikan materi bertema “Analisis Wacana dan Media”, yang menjadi salah satu topik penting dalam memahami relasi antara bahasa, kekuasaan, dan konstruksi realitas sosial di era modern.
Sebagai akademisi dan pemerhati kajian linguistik dan media, Ridwan menekankan pentingnya kemampuan membaca realitas sosial melalui bahasa dan pesan media. Ia menjelaskan bahwa bahasa tidak sekadar alat komunikasi, melainkan juga alat ideologis yang dapat memengaruhi cara masyarakat memahami peristiwa, tokoh, maupun kebijakan publik.
“Kader PMII harus mampu melihat bagaimana bahasa bekerja membentuk makna. Setiap berita, narasi, atau postingan di media sosial membawa kepentingan tertentu. Karena itu, literasi kritis menjadi bekal utama agar kita tidak mudah terseret arus wacana yang menyesatkan,” tegasnya di hadapan para peserta.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif, Ridwan mengajak para peserta untuk menganalisis contoh wacana dari berbagai media massa dan platform digital. Melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK), ia menunjukkan bagaimana struktur bahasa, pilihan diksi, serta representasi aktor dalam teks bisa mencerminkan posisi ideologis tertentu. Peserta diajak mengidentifikasi perbedaan antara fakta dan interpretasi, serta memahami cara media membingkai peristiwa.
Selain aspek teoretis, Ridwan juga menekankan relevansi praktis dari analisis wacana bagi kader PMII dalam menghadapi tantangan informasi di era digital. Ia mendorong para peserta agar menjadi pembaca aktif yang tidak hanya menerima pesan secara pasif, tetapi juga mampu mengkritisi sumber dan motif di balik setiap informasi.
“PMII harus melahirkan kader yang tidak hanya fasih berdiskusi, tetapi juga tajam dalam membaca dan menganalisis realitas sosial. Sikap kritis terhadap wacana publik adalah bagian dari tanggung jawab intelektual dan kebangsaan,” ujarnya menutup sesi.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari peserta yang merasa mendapatkan perspektif baru tentang pentingnya analisis bahasa dan media dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kehadiran Ahmad Ridwan, pelatihan kader dasar PMII Al Khosiny Sidoarjo semakin memperkaya pemahaman peserta tentang literasi kritis dan kesadaran kebangsaan di tengah dinamika wacana digital masa kini.