Asah Kemampuan Retorika, Mahasiswa PGMI Gelar Praktik Seni Drama dan Bercerita di Ruang Microteaching

Kediri — Ruang Microteaching Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) tampak lebih berwarna dari biasanya. Alih-alih simulasi mengajar formal, ruangan tersebut berubah menjadi panggung sandiwara tempat para mahasiswa mempraktikkan seni bercerita (storytelling) dan drama pendek sebagai bagian dari penguatan kompetensi komunikasi pendidik.

Kegiatan ini merupakan bagian integral dari mata kuliah pengembangan bakat dan minat, di mana mahasiswa dituntut untuk mampu menyampaikan pesan moral melalui ekspresi tubuh dan olah vokal yang menarik.

Manfaat Strategis Seni Drama bagi Calon Guru

Bukan sekadar hiburan, kegiatan bercerita dan drama ini memiliki manfaat mendalam bagi profesionalisme calon guru MI, di antaranya: Pertama, Penyampaian Materi yang Menyenangkan: Guru yang pandai bercerita dapat mengubah materi pelajaran yang membosankan menjadi narasi yang imajinatif bagi siswa. Kedua, Membangun Kepercayaan Diri: Melatih mental mahasiswa untuk tampil di depan umum tanpa rasa canggung.

Ketiga, Stimulasi Karakter Siswa: Melalui drama, guru dapat menanamkan nilai-nilai moral dan etika secara implisit kepada peserta didik. Keempat, Penguasaan Kelas: Keterampilan olah vokal dan gestur membantu guru dalam mengelola atensi siswa di kelas yang heterogen.

Dosen pengampu mata kuliah terkait menekankan bahwa ruang microteaching adalah tempat terbaik untuk bereksperimen sebelum terjun ke lapangan yang sesungguhnya. “Seorang guru PGMI harus menjadi ‘performa’ yang ulung. Di tingkat sekolah dasar, anak-anak tidak hanya butuh informasi, mereka butuh inspirasi. Dengan menguasai seni drama dan bercerita, mahasiswa belajar cara menyentuh emosi siswa. Jika emosinya sudah terbangun, materi pelajaran akan lebih mudah diserap,” ujar Dr. Amik Nadziroh, M,Pd selaku dosen prodi PGMI.

Beliau juga menambahkan bahwa integrasi antara seni tata rias yang dipelajari sebelumnya dengan seni drama ini akan menciptakan sebuah paket lengkap keterampilan ekstrakurikuler yang sangat dibutuhkan oleh madrasah maupun sekolah dasar.

Dalam praktik tersebut, mahasiswa menggunakan berbagai media pendukung seperti boneka tangan, kostum sederhana, hingga pemanfaatan teknologi audio-visual untuk memperkuat suasana cerita. Ruang microteaching yang dilengkapi kamera pemantau memungkinkan mahasiswa untuk mengevaluasi kembali ekspresi dan intonasi mereka melalui rekaman video.

Dengan pembekalan yang komprehensif ini, lulusan PGMI diharapkan mampu menghidupkan suasana belajar yang ceria, kreatif, dan tidak monoton di masa depan.