“Sebagai calon pendidik, kita harus terbuka dalam hal teknologi. Namun jangan pula kita bergantung pada teknologi, karena inti dari pendidikan adalah pada sentuhan kemanusiaan,” itulah cuplikan pendapat dari Pak Ganes Tegar Derana, M.Pd ketika memberikan kuliah umum Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kemarin (22/6). Kuliah umum yang diselenggarakan Prodi Tadris Bahasa Indonesia ini dilangsungkan di ruang Microteaching UIT Lirboyo Kediri membahas peran teknologi dalam proses pembelajaran.

Foto 1: Pak Ganes memberikan materinya tentang Paradigma Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dosen yang biasa disapa Pak Ganes ini dalam kuliahnya mengangkat tema yang cukup ilmiah, yaitu “Paradigma Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Society 5.0: Tinjauan Kemanusiaan Shinzo Abe”. Dalam paparannya, Pak Ganes menekankan bahwa dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia para calon mahasiswa harus siap hidup di era dimana teknologi akan semakin berdampingan dengan kehidupan manusia. Hal ini seperti yang dicetuskan oleh Shinzo Abe, seorang pemikir sekaligus mantan Perdanan Menteri Jepang. “Dari sinilah paradigma pembelajaran kita harus menyesuaikan. Mulai dari metode hingga bahan ajarnya pun harus kita sesuaikan dengan perkembangan zaman,” tegas Pak Ganes.

Foto 2: Sejumlah mahasiswa mendengarkan paparan materi bapak Ganes.
Pak Ganes menekankan bahwa di era digital yang sangat canggih ini, teknologi juga menjadi peluang sekaligus tantangan. Peluangnya ada pada kecanggihan-kecanggihan yang bisa memudahkan dalam proses pembelajaran itu sendiri. Dia mencontohkan banyak beberapa fitur AI yang cukup bisa membantu kinerja guru. Salah satunya ada mulai ChatGPT hingga Canva. “Melalui Canva kita dengan mudah mengatur tampilan presentasi lebih menarik dan informatif. Karena di fiturnya kita bebas memilih template hingga dengan mudah mencari ilustrasi sesuai dengan keinginan kita,” ungkap dosen satu anak ini.
Walaupun begitu, tantangan pembelajaran di era Society 5.0 pun nyata hadir di depan mata. Di zaman AI seperti ini, ketelitian hingga pengawasan seorang guru harus ekstra dilakukan. Melalui kemudahan-kemudahan AI, siswa juga bisa saja terjerumus dalam kecanduan dalam hal instan dalam mengerjakan tugas. Tanpa menggunakan nalar kritis hingga berfikir yang keras, seorang siswa kini bisa dengan mudah menyelesaikan tugasnya dengan bantuan AI. “Melalui ChatGPT saja, sekarang pertanyaan model apapun sampai instruksi menulis bentuk teks apapun sudah bisa dengan instan dibuatkan. Ini tantangan guru di era kecanggihan kecerdasan buatan ini.” Terang Pak Ganes.

Foto 3: Para peserta dan pemateri diskusi berswafoto bersama.
Ketika dilangsungkan sesi diskusi, banyak pertanyaan muncul dari mahasiswa dalam UIT sendiri maupun dari luar. Beberapa pertanyaan seperti dari Naila mahasiswa UIT Prodi Tadris Bahasa Indonesia yang menanyakan perihal dampak penerapan AI bagi pembelajaran hingga Lea dari Prodi PGMI yang mempertanyaan pengaruh kecanggihan teknologi bagi masyarakat usia tua. Tidak hanya itu, Zidan mahasiswa IAIN Kediri dari Prodi Tadris Bahasa Inggris juga menanyakan perihal implementasi pembelajaran berbasis teknologi pada produktifitas siswa.