Dosen TBIN UIT Lirboyo Kupas Proses Kreatif Buku “Kisah Sawo Kecik” dalam Ngabuburead #2

Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., dosen sekaligus Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, tampil sebagai pemateri utama dalam bincang buku Ngabuburead #2 yang digelar Rabu, 19 Maret 2025. Acara ini diselenggarakan secara daring melalui siaran langsung Instagram @ftbm_kabkediri, hasil kolaborasi antara Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Kediri dengan Prodi TBIN UIT Lirboyo.

Dalam kesempatan tersebut, Pak Fikri—yang juga Penasehat FTBM Kabupaten Kediri—membagikan pengalaman dan proses kreatif di balik penulisan bukunya yang berjudul Kisah Sawo Kecik: Jelajah Prajurit Diponegoro di Kediri. Buku ini merupakan hasil pengembangan dari tulisan berseri yang ia tulis pada bulan Ramadan tahun 2017, dan diterbitkan setiap hari selama sebulan penuh di harian Jawa Pos Radar Kediri. “Dari liputan serial kemudian disusun menjadi buku agar semakin mudah dibaca,” ungkap Pak Fikri.

Menurut Pak Fikri, penulisan awal dimulai sebagai bentuk refleksi Ramadan yang dikemas dalam narasi sejarah lokal. Ia terinspirasi oleh kisah-kisah yang tersembunyi tentang para prajurit Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke wilayah Kediri setelah kekalahan dalam Perang Jawa. Para prajurit ini, alih-alih mengangkat senjata kembali, memilih jalur spiritual dan pendidikan dengan membangun pondok-pondok pesantren yang kemudian berkembang menjadi pusat pembelajaran Islam.

“Waktu itu saya ingin menghadirkan Ramadan dengan nuansa lokal yang kaya nilai sejarah. Saya telusuri berbagai sumber, dari arsip lama hingga cerita tutur masyarakat,” ujar Pak Fikri. Ia mengungkapkan bahwa proses menulis setiap malam selama Ramadan menjadi momen mendalam yang mempertemukannya dengan berbagai tokoh, situs, dan kisah yang jarang diketahui publik.

Di hadapan audiens daring, Pak Fikri menekankan pentingnya mendekatkan sejarah kepada masyarakat lewat bahasa yang akrab dan naratif. “Penulisan buku ini adalah upaya untuk menghadirkan sejarah lokal ke tengah masyarakat dengan cara yang lebih hidup dan dekat,” tambahnya. Ia juga menyebut bahwa Kisah Sawo Kecik bukan hanya dokumentasi sejarah, tetapi bentuk penghormatan terhadap nilai perjuangan dan keteladanan tokoh-tokoh Islam masa lalu.

Acara yang dipandu oleh Ade Mahreza dari Divisi Pengembangan Organisasi FTBM Kabupaten Kediri ini berlangsung hangat dan interaktif. Peserta yang menyimak melalui Instagram Live turut aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan, menjadikan diskusi terasa hidup. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat, tetapi juga menunjukkan peran penting akademisi dalam mengangkat sejarah dan kearifan lokal melalui karya tulis yang inspiratif.