Hadiri Sarasehan Sastra, HMPS Tadris Bahasa Indonesia Berguru pada Sindhunata

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) turut menghadiri undangan sarasehan sastra yang diselenggarakan oleh Taman Baca Mahanani, Mojoroto, Kota Kediri, bersama sastrawan ternama Indonesia, Sindhunata. Acara yang berlangsung pada Rabu, 4 Juni 2025 ini menjadi momentum berharga bagi para mahasiswa untuk berdialog langsung dengan salah satu begawan sastra Indonesia yang telah menorehkan banyak karya monumental.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh sejumlah pegiat literasi, komunitas sastra, dan mahasiswa dari berbagai kampus ini, perwakilan HMPS Tadris Bahasa Indonesia tampak hadir dengan penuh antusiasme. Bagi mereka, kesempatan untuk berdialog langsung dengan Sindhunata adalah sebuah kehormatan sekaligus momen langka yang tak ingin mereka sia-siakan. “Sangat senang bertemu langsung dengan Bapak Sindhunata” ungkap Rose Kamalia, mahasiswa TBIN yang juga aktif menulis di LPM Corong ini.

Foto: Rose Kamalia setelah meminta tanda tangan Sindhunata untuk bukunya berjudul Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas.

Sindhunata, yang dikenal luas lewat karya-karyanya seperti Anak Bajang Menggiring Angin, Menyusu Celeng, hingga Putri Cina, hadir dengan semangat berbagi pengalaman kreatif sekaligus kegelisahan sosial yang melatari lahirnya karya-karyanya. Dalam sarasehan tersebut, ia mengajak peserta untuk melihat sastra bukan sekadar sebagai karya estetik, melainkan juga sebagai alat untuk menyuarakan realitas sosial, terutama penderitaan kaum kecil yang kerap tertindas oleh sistem kekuasaan. “Sastra harus bisa mewakili keadaan sosial masyarakat. Tidak cukup hanya menghibur, ia juga harus menyadarkan. Keberpihakan pada kaum kecil adalah ruh dari banyak karya sastra besar,” ungkap Sindhunata di hadapan para peserta.

Lebih jauh, Sindhunata juga memperkenalkan buku terbarunya yang berjudul Ratu Adil: Ramalan Jayabaya dan Sejarah Perlawanan Wong Cilik. Buku ini merupakan bagian dari disertasinya ketika menempuh studi doktoral di Hochschule für Philosophie München, Jerman. Dalam buku tersebut, Sindhunata menelusuri mitos Ratu Adil dalam budaya Jawa dan menjadikannya sebagai simbol perlawanan kaum tertindas terhadap ketidakadilan yang sistemik.

Foto: Sindhunata ketika memberikan sarasehan sastra di Taman Baca Mahanani, Mojoroto.

Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia yang hadir mengaku mendapatkan wawasan baru dari pertemuan ini. Mereka tidak hanya belajar tentang proses kreatif menulis, tetapi juga memahami bahwa menjadi sastrawan atau pendidik bahasa harus memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial. “Kami sangat terinspirasi dengan pemikiran Pak Sindhunata. Beliau menunjukkan bahwa sastra bisa menjadi alat perjuangan yang elegan dan menyentuh,” ujar Jumahar, mahasiswa TBIN yang juga hadir dalam sarasehan itu.

Kegiatan sarasehan ini menjadi bukti bahwa sastra masih memiliki daya tarik kuat, terutama bagi generasi muda yang tengah mencari arah dan makna dalam proses berkaryanya. Taman Baca Mahanani pun menunjukkan perannya sebagai ruang alternatif untuk tumbuhnya kesadaran literasi yang berpihak dan membumi. Melalui pertemuan seperti ini, harapannya, mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia dapat lebih aktif mengembangkan nalar kritis dan empati sosial dalam setiap karya dan aktivitas akademiknya.

Foto: Pak Fikri, Kaprodi TBIN UIT Kediri mendapatkan hadiah tanda tangan dari Shindunata untuk novelnya berjudul Anak Bajang Mengayun Bulan.