Sebagai bagian dari rangkaian Festival Tulis & Tutur Nasional (FT2N), Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo menyelenggarakan kuliah umum yang mengusung tema penting dalam studi bahasa dan wacana. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (25/6) di Ruang Microteaching UIT Lirboyo dan dihadiri oleh puluhan mahasiswa serta dosen dari Tadris Bahasa Indonesia.

Foto 1: Pak Ridwan saat memberikan materinya dalam kuliah umum.
Kuliah umum tersebut menghadirkan Ahmad Ridwan, S.S., M.Hum., dosen Tadris Bahasa Indonesia UIT Lirboyo, sebagai pemateri. Dalam paparannya, Ridwan membahas topik yang dipantik dari artikel akademiknya berjudul “Mempengaruhi Wacana Publik melalui Tulisan dan Tuturan: Kajian Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough.” Artikel tersebut mengurai bagaimana tulisan dan tuturan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen yang dapat mempengaruhi cara publik berpikir, bersikap, hingga bertindak.
Dalam penyampaiannya, Ridwan menekankan pentingnya pemahaman terhadap relasi antara bahasa dan kekuasaan. “Tulisan dan tuturan itu tidak netral. Dalam setiap teks, ada ideologi yang disisipkan. Dan melalui Analisis Wacana Kritis, khususnya model Norman Fairclough, kita bisa membongkar bagaimana wacana itu membentuk atau justru menantang tatanan sosial,” tegasnya.

Foto 2: Suasana kuliah umum yang diselenggarakan di ruang microteaching UIT Lirboyo Kediri.
Mahasiswa terlihat antusias mengikuti paparan tersebut. Dalam sesi tanya jawab, beberapa mahasiswa bertanya tentang praktik konkret dalam menerapkan analisis wacana terhadap isu-isu kontemporer, seperti narasi politik dalam media sosial atau penyebaran ujaran kebencian melalui platform digital.
Panitia FT2N menjelaskan bahwa kuliah umum ini merupakan salah satu kegiatan utama dalam rangka membangun budaya literasi kritis di kalangan mahasiswa, khususnya dalam hal menulis dan bertutur secara bertanggung jawab di ruang publik. Ketua pelaksana FT2N, Jumahar, menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah menguatkan peran mahasiswa sebagai produsen wacana, bukan sekadar konsumen informasi. “Kami berharap teman-teman tidak hanya mampu menulis dan berbicara, tetapi juga menyadari dampak sosial dari aktivitas bahasa yang mereka lakukan,” ujar Jumahar dalam sambutannya.
Kuliah umum ini menjadi penanda bahwa kegiatan Festival Tulis & Tutur Nasional tidak hanya sekadar lomba atau hiburan, tetapi juga ruang intelektual yang membentuk kesadaran kritis mahasiswa. Dengan pendekatan ilmiah dan kontekstual, peserta diajak untuk lebih peka terhadap dinamika sosial yang terbentuk melalui bahasa. FT2N sendiri masih akan berlanjut dengan berbagai kegiatan lain, seperti workshop menulis kreatif hingga diskusi buku.

Foto 3: Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia, Bapak Fikri memberikan sambutan dalam kegiatan kuliah umum.