Yogyakarta, 29 November 2025, Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia (FIAI UII) menyelenggarakan kegiatan ilmiah Student Symposium on Islamic Education (STORIES) di Auditorium KHA Wahid Hasyim. Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Pendidikan Islam di Era Digital: Membangun Karakter, Spiritualitas, dan Keberlanjutan Global” ini dirancang sebagai ruang analisis akademik yang mendalam mengenai arah pendidikan Islam di tengah percepatan teknologi digital dan disrupsi informasi.
Dalam forum tersebut, Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri mengambil peran strategis melalui partisipasi delegasi akademiknya. Angellita Salsabila Prasidha, mahasiswa PAI A2
Semester 3, mempresentasikan sebuah paper berjudul “LMS: Framework Memitigasi Risiko AI Hallucination dalam Pendidikan Islam.” Paper ini mengajukan kritik epistemologis terhadap
fenomena AI Hallucination dalam penggunaan sistem pembelajaran digital, dengan menekankan bahwa distorsi informasi yang dihasilkan AI dapat berdampak langsung pada validitas proses belajar. Angellita menawarkan kerangka mitigasi yang mengintegrasikan literasi digital etik, verifikasi epistemik berlapis, dan nilai-nilai pendidikan Islam sebagai landasan dalam memastikan bahwa teknologi tidak menggeser otoritas guru, sanad keilmuan, dan adab belajar yang menjadi pilar pendidikan Islam. Secara analitis, kerangka ini menggeser diskursus AI dari sekadar efisiensi dan kemudahan akses menuju persoalan otoritas kebenaran di ruang kelas digital. Namun, ia sekaligus menantang lembaga pendidikan Islam untuk membuktikan komitmennya melalui kebijakan konkret seperti standar verifikasi sumber, pelatihan guru, dan integrasi literasi digital etik ke kurikulum agar gagasan tersebut tidak berhenti pada level teoritis.

Sementara itu, Rahmad Ikbal Devid, mahasiswa PAI A2 Semester 7, mempresentasikan sebuah paper berjudul “Dinamika Pendidikan Pesantren Salafy Lirboyo Kota Kediri.” Paper ini menawarkan pembacaan kritis terhadap dialektika antara konservasi tradisi salafiyah dan tuntutan modernisasi pendidikan. Rahmad Ikbal menguraikan bagaimana Pesantren Salafy Lirboyo mempertahankan otoritas sanad, pola talaqqi, dan ethos keilmuan klasik, sembari tetap berhadapan dengan tuntutan regulasi negara, kebutuhan manajerial modern, serta perubahan sosial masyarakat urban-Kediri. Analisisnya memperlihatkan bahwa pesantren tidak berada dalam posisi statis, tetapi melakukan negosiasi epistemik yang kompleks untuk mempertahankan identitas keilmuan sekaligus menyikapi dinamika zaman. Dari sudut pandang kritis, paper ini mengingatkan adanya risiko lahirnya lembaga “berlabel pesantren” yang mengalami pengelupasan makna tradisionalnya ketika standar administratif dan logika pasar diterima tanpa filter nilai dan tanpa desain epistemologi yang jelas.

Partisipasi delegasi UIT Lirboyo dalam simposium ini dipandang sebagai kontribusi penting bukan hanya bagi pengembangan wacana akademik nasional, tetapi juga bagi penguatan posisi institusi dalam peta keilmuan pendidikan Islam. Melalui presentasi paper tersebut, UIT Lirboyo menunjukkan kapasitas akademiknya dalam merespons isu-isu kontemporer seperti kecerdasan buatan, transformasi digital, dan dinamika pendidikan tradisional. Lebih jauh, kehadiran ini menegaskan bahwa institusi berlatar pesantren tidak lagi sekadar menjadi objek modernisasi, melainkan subjek yang aktif mengkritisi, merumuskan, dan mengarahkan arah pemanfaatan teknologi dalam pendidikan Islam. Simposium ini ditutup dengan penegasan bahwa transformasi pendidikan Islam harus berlandaskan orientasi etik, refleksi kritis, dan kedalaman spiritual, sehingga tidak terjebak pada adaptasi teknologi yang dangkal dan berorientasi praktis semata. Dengan demikian, STORIES tidak hanya menjadi ajang diseminasi paper riset, tetapi juga arena dialektika ilmiah yang memperkuat jejaring akademik serta komitmen institusi terhadap pengembangan keilmuan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.