Festival Sastra Kota Malang (FSKM) kembali menghadirkan ruang dialog sastra melalui agenda Beranda Kota: Bincang Buku bertajuk Merakit Kisah antara Manusia & Kecerdasan Buatan. Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 22 November 2025, pukul 12.30–14.00 WIB di Panggung Pertemuan Maliki Plaza, Kota Malang. Acara ini menghadirkan sastrawan nasional Dadang Ari Murtono sebagai narasumber, dengan Moh. Fikri Zulfikar, dosen Tadris Bahasa Indonesia UIT Lirboyo Kediri, sebagai pembedah novel Buku Pegangan Mencari Kerja, serta dimoderatori oleh Dani Alifan.

Foto 1: Sesi foto bersama narasumber dalam kegiatan FSKM.
Dalam pemaparannya, Moh. Fikri Zulfikar menyoroti secara mendalam relasi manusia dengan mesin yang menjadi benang merah penting dalam novel Buku Pegangan Mencari Kerja karya Dadang Ari Murtono. Menurutnya, novel ini tidak sekadar menghadirkan cerita fiksi, melainkan membuka kemungkinan baru dalam praktik kepenulisan sastra di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. “Relasi manusia dan mesin dalam novel ini bukan sesuatu yang futuristik semata, tetapi sangat dekat dengan pengalaman keseharian kita hari ini,” ujar Fikri.
Lebih lanjut, Fikri menjelaskan bahwa keunikan novel Buku Pegangan Mencari Kerja terletak pada cara pengarang membangun kritik sosial melalui tokoh pengangguran. Tokoh tersebut menjadi representasi dari manusia yang terpinggirkan dalam sistem kerja modern yang kian tidak manusiawi. “Novel ini sangat relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini, ketika manusia direduksi menjadi angka dan produktivitas semata akibat logika kapitalisme,” tegasnya.

Foto 2: Para penonton antusias dalam mengikuti jalannya diskusi.
Fikri juga menambahkan bahwa pendekatan Dadang dalam menulis fiksi membuka ruang refleksi baru bagi penulis dan pembaca. Ia menilai novel ini mampu mengawinkan isu teknologi, krisis kemanusiaan, dan sastra secara cair. “Inilah contoh bagaimana fiksi bekerja sebagai kritik kebudayaan, tanpa harus kehilangan daya estetiknya,” tambah Fikri dalam sesi diskusi.
Sementara itu, Dadang Ari Murtono menjelaskan bahwa proses kreatif penulisan novel tersebut berangkat dari pengamatannya terhadap realitas sosial di sekitar dunia kerja. Ia mengaku banyak menyerap pengalaman orang-orang yang terjebak dalam sistem kerja yang menekan dan tidak berpihak pada manusia. “Novel ini lahir dari kegelisahan saya melihat bagaimana manusia sering kali kalah oleh sistem yang diciptakannya sendiri,” ungkap Dadang.
Melalui bincang buku ini, Festival Sastra Kota Malang menegaskan peran sastra sebagai medium refleksi kritis terhadap persoalan kontemporer, sekaligus memperlihatkan kontribusi akademisi seperti Moh. Fikri Zulfikar dalam menjembatani dunia sastra, pendidikan, dan realitas sosial yang terus berubah.
