Mahasiswa PGMI Kini Dibekali Keahlian Tata Rias: Siapkan Guru Kreatif untuk Kebutuhan Ekstrakurikuler

Kediri,  Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) melakukan terobosan baru dalam pengembangan kurikulum berbasis soft skill. Tidak hanya fokus pada pedagogi di dalam kelas, kini mahasiswa PGMI Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri mulai dibekali dengan keterampilan Seni Tata Rias.

Langkah ini diambil sebagai bentuk respon terhadap kebutuhan nyata di lapangan, di mana seorang guru kelas di tingkat dasar seringkali menjadi sosok sentral dalam mengelola kegiatan lembaga, khususnya pada bidang seni dan ekstrakurikuler. Bukan Sekadar Estetika, Tapi Kebutuhan Profesional, Pengembangan mata kuliah ini bertujuan untuk membentuk calon pendidik yang mandiri dan serba bisa. Selama ini, sekolah seringkali harus mengeluarkan biaya operasional yang besar untuk menyewa jasa perias profesional setiap kali ada kegiatan pementasan seni atau perlombaan.

Menurut kaprodi PGMI Dr. Amik Nadziroh, M.Pd menjelaskan “bahwa Dengan adanya pembekalan ini, mahasiswa diharapkan mampu: Pertama, Merias Siswa secara Mandiri: Terutama untuk kegiatan rutin seperti perpisahan sekolah, peringatan hari besar, dan karnaval. Kedua, Mendukung Seni Tari: Menguasai dasar-dasar rias panggung yang sesuai dengan karakter tarian anak-anak. Ketiga, Persiapan Lomba: Memastikan siswa tampil percaya diri dan representatif dalam berbagai ajang kompetisi antar lembaga pendidikan“.

Selain itu kegiatan seni tata rias juga memiliki korelasi dengan Seni Tari dan Ekstrakurikuler Dosen pengampu mata kuliah menyatakan bahwa seni tata rias memiliki kaitan erat dengan pengajaran seni tari. Tata rias bukan hanya tentang mempercantik wajah, melainkan bagian dari visualisasi karakter yang diajarkan dalam kurikulum seni budaya di sekolah dasar/madrasah.

“Kami ingin lulusan PGMI tidak hanya mahir mengajar matematika atau bahasa, tapi juga memiliki soft skill yang ‘hidup’ di masyarakat. Saat ada lomba tari atau kegiatan ekstrakurikuler, guru PGMI lah yang akan berdiri di depan untuk mempersiapkan anak didiknya dari hulu ke hilir,” ujar salah satu perwakilan prodi.

Dalam sesi perkuliahan, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan teknik rias wajah yang aman bagi kulit anak-anak, pemilihan warna yang sesuai dengan pencahayaan panggung, hingga penggunaan alat rias yang efektif namun ekonomis bagi instansi pendidikan.

Diharapkan dengan inovasi kurikulum ini, lulusan PGMI akan memiliki nilai tambah (USP) yang lebih tinggi di mata lembaga pendidikan dan mampu menghidupkan ekosistem seni di sekolah tempat mereka mengabdi nantinya.