Mahasiswa PGMI Lestarikan Budaya Lewat Tari: Mengasah Kreativitas Calon Guru Masa Depan

Kediri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) menggelar pagelaran seni tari tradisional sebagai bagian dari kurikulum pengembangan bakat dan minat. Kegiatan yang bertajuk “Harmoni Budaya di Tangan Pendidik” ini membuktikan bahwa calon guru MI tidak hanya dituntut menguasai literasi dan numerasi, tetapi juga harus memiliki kepekaan estetika dan kecerdasan emosional melalui seni.

Dalam acara tersebut, berbagai tarian daerah dari Sabang sampai Merauke ditampilkan dengan penuh antusiasme. Tidak sekadar menari, para mahasiswa juga bertanggung jawab atas koreografi, pemilihan kostum, hingga filosofi di balik gerakan yang mereka bawakan.

Bagi calon guru PGMI, menguasai seni tari bukan sekadar tentang estetika di atas panggung. Ada kontribusi mendalam yang akan dibawa ke dalam ruang kelas nantinya:

  • Media Pembelajaran Kinestetik: Seni tari menjadi alat bagi guru untuk menjelaskan materi yang bersifat abstrak menjadi gerakan yang mudah diingat oleh anak-anak usia dasar.
  • Pendidikan Karakter: Melalui tari, mahasiswa belajar tentang disiplin, kerja sama tim (ensemble), dan rasa percaya diri—nilai-nilai utama yang akan ditularkan kepada siswa.
  • Pelestarian Identitas Bangsa: Sebagai ujung tombak pendidikan di Madrasah, guru PGMI berperan vital dalam memperkenalkan kekayaan budaya lokal agar tidak luntur tergerus zaman.
  • Stimulasi Motorik Anak: Guru yang terampil menari dapat merancang kegiatan “ice breaking” atau olahraga kreatif yang mendukung perkembangan motorik kasar siswa di sekolah.

“Kami ingin mencetak guru yang ‘multitalenta’. Saat mereka bertugas di daerah terpencil atau sekolah perkotaan, mereka bisa menjadi penggerak budaya. Seni tari melatih kesabaran dan ketelitian yang sangat dibutuhkan saat menghadapi karakter anak-anak yang beragam,” ujar Ketua Program Studi PGMI dalam sambutannya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan lulusan PGMI mampu menghadirkan suasana belajar yang ceria, kreatif, dan penuh makna, sehingga sekolah bukan hanya tempat belajar buku teks, tapi juga tempat merayakan kreativitas.