Dalami Sastra Dunia, Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Bedah Novel George Orwell

Keseruan Klub Buku Multatuli terus berlangsung. Klub baca yang dinaungi Prodi Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri ini memulai kembali rutinan bedah karya setelah libur panjang semester genap lalu. Tak tanggung-tanggung, kegiatan yang dilangsungkan pada Rabu (2/10) lalu ini membedah novel terjemahan berjudul 1984 karya sastrawan Inggris George Orwell. Dalam kesempatan ini hadir Ahmad Faiz Yusuf, siswa MAN 2 Kota Kediri dan Moh. Fikri Zulfikar, dosen Sastra UIT Lirboyo ini sebagai pembedah novel legendaris tersebut.

Foto 1: Sesi foto bersama setelah diskusi bedah buku selesai.

Bedah novel yang diselenggarakan di ruang Microteaching UIT lirboyo ini berjalan dengan gempita. Para pembedah mengulas karya tersebut dengan kritis sekaligus mampu membuat para peserta lain penasaran ingin membacanya. Hal ini seperti yang diungkapkan Faiz ketika membedah novel mengatakan bahwa novel 1984 ini membuatnya semakin minat dalam membaca novel. Karena kisahnya selain imajinasi juga memberikan gambaran bagaimana praktik totalitarianisme itu diterapkan di suatu Negara. “Jika tokoh Bung Besar itu nyata adanya, maka kita sebagai masyarakat sipil menjadi tidak bebas dan kemerdekaan kita dalam berpikir akan terampas,” ungkap siswa kelas XI ini.

Foto 2: Pemateri tengah menyampaikan pandangannya terkait novel 1984 karya George Orwell

Selain Faiz, pembedah dua, yaitu Pak Fikri lebih menyoroti tentang peran-peran alat Negara yang membuat masyarakatnya terkekang. Terlebih ketika Bung Besar sebagai pimpinan partai sekaligus pimpinan Negara memiliki alat-alat canggih dalam mengawasi rakyatnya. Alat-alat canggih itu diantaranya mulai Polisi Pikiran hingga alat bernama Teleskrin. “Jika kita tidak senang atau berpikir macam-macam tentang Bung Besar, Polisi Pikiran akan mendeteksi kita, kemudian kita langsung bisa ditangkap. Sedangkan Teleskrin ini semacam alat yang bisa merekam apa yang kita lakukan. Semacam CCTV tersembunyi,” terang dosen yang juga sebagai Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia ini.

Foto 3: Salah satu peserta menanggapi ulasan novel yang membuat diskusi semakin hidup.

Setelah diulas secara mendalam, para peserta lain ikut dalam sesi diskusi untuk lebih mendalami terkait hasil pembacaan karya yang diulas siang itu. Kegiatan ini semakin semarak karena sebelum bedah buku berlangsung, dilakukan pula pembacaan puisi oleh beberapa mahasiswa TBIN dari lintas angkatan. Diantaranya seperti Azay Jaya Agung yang merupakan mahasiswa baru membaca beberapa puisi dari sastrawan terkenal Sapardi Djoko Damono. Tidak hanya itu, ada pula M. Abidzar Maulana G. mahasiswa TBIN angkatan 2023 pun tidak mau kalah. Dia membacakan beberapa puisi karya Joko Pinurbo.

Foto 4: Novel berjudul 1984 karya George Orwell yang didiskusikan dan dibedah.