Mengangkat tragedi yang telah lama dikaburkan dalam sejarah nasional, Bapak Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., Dosen Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, hadir sebagai pembicara dalam kegiatan bedah buku Makam Tanpa Nama: Mati dan Bertahan Hidup di Tengah Kekerasan Antikomunis di Jawa Timur. Kegiatan yang diselenggarakan oleh berbagai komunitas literasi di Malang dan bertempat di Café Pustaka Kota Malang ini menarik perhatian publik akademik dan pencinta literasi sejarah pada Rabu malam (7/5).

Foto 1: Pak Fikri tengah memberikan ulasan buku Makam Tanpa Nama.
Dalam forum yang dipandu oleh Nita Putri Febriani, mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya, Pak Fikri tampil dengan pendekatan khas: menguliti sejarah dari sisi kebahasaan terlebih dahulu. Menurutnya, buku karya peneliti asal Australia, Vanessa Hearman, ini menghadirkan sebuah pendekatan penulisan sejarah yang lembut namun menghunjam. “Vanessa memilih bahasa yang halus, tetapi dampaknya tetap kuat. Ia menggunakan istilah ‘kekerasan antikomunis’ alih-alih ‘pembantaian’ atau ‘genosida’ seperti yang sering dipakai peneliti lain. Di sini kita melihat strategi bahasa untuk menyampaikan duka tanpa kehilangan etika akademik,” jelas Pak Fikri di hadapan peserta diskusi.
Salah satu hal yang menjadi sorotan utama Pak Fikri adalah bagaimana Vanessa membumikan narasi kekerasan 1965 dengan mengambil latar wilayah yang dekat dengan kita—Jawa Timur, khususnya Kediri dan Blitar. Kedua daerah tersebut, kata Pak Fikri, adalah titik-titik kelam dalam sejarah kekerasan antikomunis, namun selama ini minim dalam dokumentasi sejarah resmi. “Sebagai warga Kediri, saya merasa buku ini seperti cermin. Ia tidak hanya mencatat peristiwa, tapi juga memanggil kita untuk mengingat dan bertanya: apa yang telah benar-benar terjadi di sekitar kita dulu?” tuturnya.

Foto 2: Penonton diskusi buku yang memenuhi Cafe Pustaka Kota Malang.
Dalam pandangan Pak Fikri, karya Vanessa Hearman ini layak dibaca bukan hanya oleh sejarawan, tetapi juga oleh guru, mahasiswa, dan masyarakat umum. Melalui gaya penulisan yang bisa dijangkau lintas disiplin, Makam Tanpa Nama menjadi medium refleksi tentang masa lalu dan harapan agar kekerasan serupa tidak terulang di masa depan. “Sejarah yang disampaikan secara empatik seperti ini bisa menjadi pendidikan moral bagi generasi muda,” katanya.
Diskusi ini juga dihadiri oleh Arif Subekti, S.Pd., M.A., Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, yang memberikan konteks sejarah lebih luas. Pak Arif menjelaskan perkembangan komunisme di Indonesia dari masa kolonial, Peristiwa Madiun 1948, hingga puncaknya pada tragedi 1965. Ia menegaskan pentingnya pendekatan regional seperti yang dilakukan Vanessa agar sejarah tidak hanya dinarasikan dari pusat, tetapi juga dari pinggiran yang selama ini dibungkam.

Foto 3: Pak Arif Subekti yang memaparkan ulasannya tentang perkembangan hingga kejatuhan komunisme di Indonesia.
Melalui kegiatan ini, kita diingatkan bahwa sejarah bukan hanya milik para penyusun dokumen dan catatan negara, tetapi juga milik mereka yang pernah menjadi korban, saksi, atau bahkan hanya pewaris cerita. Dan dalam menghadirkan narasi sejarah yang adil, suara-suara seperti yang hadir dalam buku ini selalu relevan dan dibutuhkan.
