Cerpen Dosen UIT Lirboyo Diadaptasi jadi Pementasan Sendratasik di SMAN 10 Malang

Cerpen berjudul Demit karya Bapak Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., dosen Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, diadaptasi menjadi sebuah pementasan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) bertajuk Sengkala Bengi Kliwon. Pementasan ini digelar dengan meriah di aula utama SMAN 10 Malang pada Senin (16/6) sebagai bagian dari gelar karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema “Bhineka Tunggal Ika: Satu Panggung Beragam Mite.”

Foto 1: Para pemeran cerita mementaskan sendratasik di Aula SMAN 10 Malang.

Cerpen Demit, yang pernah dimuat di Koran Jawa Pos, Radar Malang pada tahun 2012, diangkat oleh para siswa menjadi naskah drama dengan alur yang kreatif dan puitis. Cerita ini menggambarkan pemberontakan bangsa dedemit kepada Dewi Durga penguasa Kuburan Sentra Gandamayu, yang kemudian diinterpretasikan sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang korup dan manipulatif.

Dalam pementasan yang berlangsung hampir satu jam itu, unsur drama, tari, dan musik karawitan menyatu dalam harmoni yang memukau. Dosen sastra sekaligus penulis cerpen, Moh. Fikri Zulfikar, yang turut hadir sebagai tamu undangan, menyampaikan rasa bangganya saat menyaksikan cerpennya dihidupkan di atas panggung. “Saya merasa sangat terhormat dan bahagia, karena cerita yang saya tulis lebih dari satu dekade lalu bisa menemukan kehidupan baru lewat tangan-tangan kreatif siswa SMAN 10 Malang,” ujar Pak Fikri. Ia pun mengapresiasi kerja keras seluruh tim produksi. “Saya benar-benar kagum dengan akting para pemainnya, musik pengiring yang khas, gerakan tari yang penuh makna, hingga pencahayaan yang membuat suasana panggung hidup dan menyihir.” tegasnya

Foto 2: Dewi Durga ketika mendapati Mat Kliwon berkhianat ingin melengserkan tahtanya. 

Pementasan ini disutradarai oleh Affan, siswa kelas XI yang telah mempersiapkan pertunjukan tersebut sejak awal Ramadan lalu. Ia mengaku bahwa cerpen Demit menarik perhatiannya karena mengangkat isu-isu penting yang masih relevan, seperti korupsi, kejujuran, dan keberanian menghadapi ketidakadilan. “Saya tertarik pada cara Pak Fikri mengemas pesan moral dalam mitologi lokal. Maka saya dan tim ingin membawanya ke panggung dengan sentuhan budaya yang kuat,” ujar Affan. Dalam proses kreatifnya, ia dibantu oleh Qisthi, teman sekelasnya yang menulis ulang naskah ke dalam bentuk skenario drama.

Pementasan Sengkala Bengi Kliwon ini tidak hanya menampilkan kemampuan seni para siswa, tetapi juga menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi sumber inspirasi penting dalam pendidikan karakter dan pembentukan kreativitas. Melalui karya ini, SMAN 10 Malang berhasil menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal dan kritik sosial dalam bentuk seni pertunjukan yang segar dan menggugah.

Foto 3: Pak Fikri berfoto bersama pemeran sedratasik beserta kru dan pemusiknya.