Dosen TBIN Sampaikan Orasi Kebudayaan dalam Pementasan Drama Musikal Kolaboratif di Pare

Dosen Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri, Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., menyampaikan orasi kebudayaan dalam pementasan kolaborasi drama musikal yang digelar di Sanggar Budaya Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, pada Sabtu, 29 November 2025. Orasi kebudayaan tersebut menjadi pembuka rangkaian pementasan drama kolaboratif yang melibatkan tiga sekolah menengah di wilayah Pare, yakni SMAN 1 Pare, SMK YP 17 Pare, dan SMA Dharma Wanita 1 Pare.

Foto 1: Pak Fikri saat menyampaikan orasi kebudayaannya.

Dalam orasinya, Moh. Fikri Zulfikar menekankan pentingnya regenerasi seni sastra dan drama di Kabupaten Kediri sebagai upaya menjaga keberlanjutan iklim kesenian, khususnya sastra pertunjukan. Menurutnya, ruang-ruang kreatif seperti pementasan drama bukan sekadar aktivitas seni, melainkan wahana strategis untuk membentuk kepekaan estetik, sosial, dan ekologis generasi muda. “Regenerasi seni sastra dan drama sangat penting agar suasana sastra di Kediri tetap hidup. Seni pertunjukan harus terus diberi ruang, terutama bagi pelajar, sebagai wadah berekspresi dan berkreasi secara bebas dan bertanggung jawab,” ungkapnya di hadapan penonton yang memenuhi area Sanggar Budaya Pare.

Ia juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, drama merupakan keterampilan otentik manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Proses kreatif dalam drama—mulai dari penghayatan peran, dialog, gerak, hingga kerja kolektif—menjadi sarana penting untuk mengasah empati, imajinasi, dan nalar kritis siswa.

Foto 2: Formasi drama musikal di ujung pementasan.

Pementasan malam itu menampilkan naskah fenomenal karya sastrawan Indonesia Putu Wijaya berjudul Zero. Naskah tersebut mengangkat isu pentingnya kelestarian alam dan kritik terhadap perilaku manusia yang abai terhadap keseimbangan lingkungan. Melalui drama musikal kolaboratif ini, pesan ekologis disampaikan secara kreatif dan komunikatif, sehingga mudah diterima oleh penonton lintas usia.

Kolaborasi tiga sekolah dalam satu panggung menunjukkan semangat kebersamaan dan sinergi antarlembaga pendidikan dalam mengembangkan seni budaya. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa seni drama masih relevan dan memiliki peran penting sebagai media pendidikan karakter, ekspresi kreatif, serta perlawanan kultural yang humanis di tengah gempuran teknologi modern.

Foto 3: salah satu siswa dalam menunjukkan perannya sebagai pemeran antagonis.