Keaktifan akademik kembali ditorehkan oleh dosen Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri. Salah satu dosen yang dikenal konsen dalam bidang menulis kreatif, Bapak Moh. Fikri Zulfikar, M.Pd., dipercaya menjadi juri dalam ajang bergengsi KANDITAFEST 2025 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Kegiatan yang berlangsung meriah ini menghadirkan lomba esai yang diikuti lebih dari 40 tim dari berbagai universitas di Indonesia. Tercatat sejumlah kampus unggulan turut ambil bagian, di antaranya Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Brawijaya (UB), hingga Universitas Jambi (UNJA). Hal ini menunjukkan betapa lomba esai di KANDITAFEST memiliki daya tarik besar di kalangan mahasiswa dari berbagai daerah.

Foto 1: Pak Fikri berfoto bersama dengan juara lomba esai beserta juri lain dan panitia kegiatan.
Menurut keterangan Pak Fikri, lomba tersebut diawali dengan seleksi ketat terhadap puluhan naskah esai yang masuk. Dari tahap awal, kemudian dipilih tiga besar tim terbaik yang berhak melaju ke babak Grand Final. Babak puncak yang diselenggarakan Senin (11/8) di Aula Gedung D3 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang menghadirkan atmosfer kompetisi yang penuh antusiasme. Adapun tiga tim terbaik yang berhasil menembus Grand Final berasal dari Universitas Merdeka Malang, Universitas Negeri Malang, serta UIN Sunan Ampel Surabaya. Mereka kemudian beradu argumen dan mempertahankan esai yang telah ditulis di hadapan dewan juri, termasuk Pak Fikri. “Kompetisinya sangat sengit,” terang Pak Fikri.
Dalam penilaiannya, Pak Fikri tidak hanya menekankan aspek substansi isi esai, tetapi juga struktur penulisan. Menurutnya, esai merupakan karya tulis yang sarat dengan argumentasi personal, refleksi kritis, serta subjektivitas penulis, sehingga harus dibedakan secara jelas dari karya ilmiah. “Dari lebih dari 40 esai yang saya baca, saya cukup menyayangkan masih banyak peserta yang belum bisa membedakan antara tulisan esai dengan karya ilmiah. Padahal esai memiliki gaya dan kebebasan berpikir yang khas, bukan sekadar laporan akademik,” ungkapnya.

Foto 2: Pak Fikri ketika memberikan ulasan penilaiannya kepada salah satu peserta Grand Final.
Dalam ulasan yang disampaikan di depan peserta, Pak Fikri menekankan pentingnya memperkaya diri dengan bacaan esai yang berkualitas. Ia menyarankan para mahasiswa untuk banyak membaca esai di media massa arus utama, seperti rubrik opini di Jawa Pos, Kompas, hingga tirto.id. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga memahami bagaimana menyusun argumen yang kuat sekaligus menjaga struktur esai agar tetap terarah.
Kepercayaan yang diberikan kepada dosen TBIN UIT Lirboyo ini sekaligus menjadi pengakuan atas kompetensi dan kontribusi kampus dalam bidang literasi dan kepenulisan kreatif. Kehadiran Pak Fikri sebagai juri di ajang nasional ini diharapkan mampu menginspirasi mahasiswa UIT Lirboyo, khususnya di Prodi TBIN, untuk terus mengasah keterampilan menulis esai yang baik dan berkualitas.

Foto 3: Salah satu tim peserta lomba esai ketika menjelaskan hasil tulisannya di depan dewan juri.